Monthly Archives: May 2018

Saksikan Kenakalan Peter Rabbit dalam Sekuelnya!

Kabar gembira datang untuk anda atau anak-anak anda yang suka dengan film Peter Rabbit. Kabarnya kenakalan kelinci Peter Rabbit ini bakal kembali ke layar lebar. Sony Pictures yang menjadi rumah produksi dari film yang mana dibintangi oleh James Corden ini berencana untuk menggarap sekuelnya.

Rilis Dua Tahun Setelah Film Perdananya

Melansir CNN Indonesia, Sony Picture telah secara resmi mengumumkan tanggal rilisnya yakni tanggal 7 Februari 2020. Tanggal di mana Peter Rabbit 2 akan dirilis itu berjarak hampir 2 tahun sejak penayangan perdana Peter Rabbit pertama yang dirilis pada tanggal 3 Februari 2018 lalu. will Gluck juga akan kembali didaulat menjadi sutradara Petter Rabbit 2 dan juga penulis naskahnya.

Corden yang mana menyuarakan Peter Rabbit diprediksi akan kembali lagi walaupun belum ada konformasi secara resminya. Bea (Rose Byrne), Daisy Ridley (Cottontail), Domhnall Gleeson (Thomas McGregor), dan juga Elizabeth Debicki (Mopsy) pun diperkirakan masih ikut terlibat.

Sukses di Awal Rilis

Peter Rabbit juga bisa dibilang sukses ketika awal dirilis tahun lalu. total pendapatan secara globalnya, mengutip dari CNN Indonesia, sebesar kurang lebih US $326 juta atau sama dengan Rp. 4.5 triliun. Sementara itu, pengeluaran film itu sebesar kira-kira US $50 juta atau setara dengan Rp. 698 milyar.

Penghasilan tersebut bisa dikatakan sangat mengejutkan karena film bandar poker terpercaya ini sempat dihujani dengan isu negative dan juga mendapatkan ancaman boikot. Beberapa orang tua memprotes bagaimana cara Peter Rabbit memperlakukan Thomas McGregor yang menjadi orang yang alergi blackberry. Ia dicemooh bahkan juga cenderung dibully.

Sempat Kena Petisi

Ada satu adegan di mana para kelinci melemparinya dengan blackberry dan salah satu blackberry itu terkena di mulut yang langsung membuatnya alergi. Ia tergagap karena sangat shock anafilaktis (reaksi alregi yang mana dianggap sebagai kondisi medis yang sangat darurat) kemudian wajahnya lalu berubah merah.

Setelah beberapa detik kemudian, ia baru bisa mengatasi hal itu dengan cara menyuntikkan EpiPen ke dalam tubuhnya sendiri. itu merupakan injector untuk mengatasi semua jenis alergi secara darurat.

Dan menurut Allergy UK, dikutip dari CNN Indonesia, mengolok-olok seseorang apalagi sampai membuatnya mengalami syok anafilaktis bukan suatu tindakan yang dianggap bertanggung jawab. Bahkan itu disebut sama juga seperti perundungan.

CEO Allergy UK, Carla Jones juga menambahkan, “Sok anafilatik dapat membunuh. Menyertakan di adegan sebuah film anak-anak yang menampilkan reaksi alergi serius dan tak melakukannya dengan bertanggung jawab, itu tak bisa diterima. Seperti bullying.”

Mereka menganggap bahwa efek dari adegan itu akan memberikan dampak yang buruk. Ia coba memperingatkan orang tua juga. “Alergi makanan itu sangat serius sehingga kita harus mengedukasi anak-anak untuk bisa peduli dan menghormati para #FoodAllergies #Bullying,” tulis salah satu warganet.

Akhirnya pihak Sony Pictures menanggapi petisi dan seruan pemboikotan itu. secara resmi mereka meminta maaf pada hari Minggu, 11 Februari 2018 lalu. “Alergi makanan adalah masalah yang sangat serius. Film kami ini seharusnya tak mengolok musuh Peter Rabbit, Mr. McGregor, dikarenakan alergi pada blackberry walaupun itu dengan cara kartu atau dengan guyonan yang kasar,” itu lah apa yang tersebut dalam pernyataan dari Sony Pictures. Sony bahkan mengungkapkan tidak bermaksud sama sekali mengejek penyakit alergi yang serius dan juga secara menyedihkan tak menghormati keluarga-keluarga yang pernah kehilangan orang tercintanya karena anafilaksis.

Diadaptasi ke Film, ‘GUNDALA’ Pilih Joko Anwar

Geliat film superhero memang selalu bisa menghasilkan pendapatan box office yang sangat menggiurkan. Sebut saja Marvel-Disney dengan Marvel Cinematic Universe (MCU) yang sudah memiliki 19 film selama 10 tahun dengan keseluruhan pendapatan total domino qiu qiu sejauh ini USD 15,4 miliar. Tak mau kalah, DC-Warner Bros juga memiliki DC Extended Universe (DCEU) dengan lima film yang baru berjalan lima tahun dengan pendapatan total USD 3,7 miliar.

 

Menyadari penggemar film superhero Hollywood di Indonesia cukup besar, Screenplay Films dan Legacy Pictures yang bekerjasama dengan Bumilangit Studios memberanikan diri mengusung Gundala si Putra Petir. Komik karya Hasmi ini pertama kali dirilis pada tahun 1969 dan meskipun mendapat pengaruh superhero the Flash milik DC karya Gardner Fox, Gundala disebut Hasmi berdasarkan tokoh legenda Jawa bernama Ki Ageng Sela yang mampu menangkap petir.

 

Tokoh dalam Gundala adalah seorang ilmuwan jenius bernama Sancaka yang menemukan serum anti petir. Terlalu sibuk dengan ambisinya, Sancaka lupa bahwa sang kekasih Minarti berulang tahun hingga mereka putus. Dalam kondisi gundah, Sancaka yang patah hati berjalan sendiri di bawah hujan deras mendadak disambar petir hingga koma. Saat itulah jiwanya ditarik ke planet lain dan diangkat sebagai anak oleh Kaisar Kronz, raja Kerajaan Petir. Sancaka diberkahi kekuatan petir dari telapak tangannya dan kekuatan lari secepat angin milik Raja Tafun dari Kerajaan Bayu.

 

Tak main-main, untuk proyek ambisius GUNDALA ini, sutradara yang dibebankan tanggung jawab berat adalah Joko Anwar. Sukses besar lewat PENGABDI SETAN (2017), Joko memang menyebut kalau dirinya ingin terlibat dalam proyek film yang menantang. Apakah GUNDALA bakal mampu menjawab penilaian pemisis akan film superhero karya anak bangsa?

 

Alasan Hanung Bramantyo Diganti Joko

 

Proyek GUNDALA sendiri sebetulnya bukan baru-baru ini dihembuskan. Bahkan sejak September 2014, Bumilangit Studios sudah akan bekerjasama dengan Mahaka Pictures untuk GUNDALA PUTRA PETIR. Bahkan saat itu Hanung Bramantyo sudah disebut sebagai sutradara dan siap rilis di awal 2016. Namun film itu berkembang tidak jelas hingga Bumilangit Studios meresmikan rencana penggarapan GUNDALA yang baru dengan rumah produksi dan sutradara baru.

 

Wicky V Olindo selaku produser Screenplay Films menyebutkan bahwa ketidakcocokan antara Hanung dan Bumilangit, sebagai pemilik hak cipta karakter Gundala, jadi penyebab proyek itu gagal. Bumilangit ingin GUNDALA jadi awal munculnya film jagoan-jagoan asli Indonesia yang hak cipta karakter dimiliki oleh Bumilangit, tapi Hanung tak menyanggupinya, seperti dilansir VIVA. Sebelum dipegang oleh Joko, Gundala sudah pernah diangkat ke film yakni pada 1981 berjudul GUNDALA PUTRA PETIR yang diarahkan oleh Lilik Sudjio dan diproduksi Cancer Mas Film.

 

Banyak Film Adaptasi Komik Hingga 2022

 

Seolah ingin mengikuti jejak MCU atau DCEU, Bumilangit berambisi menciptakan semesta komik mereka ke layar lebar. Oyasujiwo selaku editor senior komik Bumilangit membocorkan bahwa pihaknya sudah memiliki berbagai proyek komik yang akan diadaptasi ke film hingga lima tahun ke depan yakni 2022, seperti dilansir Medcom.

 

Menurut Oya, Bumilangit saat ini menjadi rumah lebih dari 1.000 karakter komik superhero lokal Indonesia termasuk Gundala, Si Buta dari Gua Hantu, Godam, Mandala, Sri Asih, Virgo dan Tira yang dihasilkan para kreator legendaris seperti Hasmi, Wied NS, Jan Mintaraga, Nono GM, Mansyur Daman dan RA Kosasih.

Apakah Isi Pertemuan Grab dan KPPU Tentang Akuisisi Uber?

KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) akhirnya membeberkan hasil pertemuan dengan pihak Grab Indonesia tentang akuisisi perusahaan tersebut terhadap Uber.

Uber Tak Miliki Kantor di Asia Tenggara

Dan diketahui, akuisisi pada Uber dilakukan oleh Grab pada akhir Maret yang lalu. lembaga tersebut meminta Grab Indonesia apakah sebab dari transaksi Judi bola online tersebut.

Pertemuan kedua belah pihak tersebut dilakukan pada tanggal 16 April 2018 lalu. dan manajemen Grab Indonesia, yang saat itu diwakili oleh Direktur Pelaksana menjelaskan tentang apakah transaksi itu. “Managing Director Grab Indonesia menjelaskan bahwasanya Uber Indonesia tak memiliki kantor atau pun badan hukum khusus di Asia Tenggara, akan tetapi kantor didirikan pada tiap negara yang ada operasional Uber Indonesia.” itu lah apa yang diungkapkan oleh KPPU dalam keterangan tertulisnya pada hari Rabu (25/4).

Grab Indonesia pun menjelaskan bahwa aset yang mana dialihkan tersebut meliputi pelbagai peralatan, karyawan yang tak dimiliki dan kontrak. Akan tetapi tak mencakup teknologi informasi dan juga hak kekayaan intelektual.

Pemegang Saham Minoritas

KPPU juga menyatakan bahwa Uber Indonesia masih memiliki aset khusus tersebut. “Pascaakuisisi, Uber Indonesia menjadi pemegang saham minoritas di Grab Holding,” kata KPPU.

Setelah pertemuan itu, KPPU sendiri menilai bahwa akuisisi oleh Grab Indonesia pada Uber Indonesia ini bukanlah sebuah penggabungan usaha. Lembaga itu menilai bahwa transaksi tersebut berada di luar cakupan definisi penggabungan usaha apabila berdasarkan aturan antimonopoli.

Akuisisi Tak Kendalikan Uber

KPPU pun menilai bahwa akuisisi oleh Grab Indonesia pada Uber Indonesia ini sah-sah saja. Lembaga tersebut menilai bahwa transaksi menjadi tidak wajib dinotifikasikan karena berada di luar cakupan definisi dari penggabungan usaha, peleburan dan juga pengambilalihan oleh UU Nomor 5 Tahun 1999 soal Larangan Prakter Monopoli dan Persaingan Usaha Tak Sehat.

“Transaksi itu tak wajib dinotifikasikan karena berada di luar cakupan definisi penggabungan usaha, peleburan, atau pengambilalihan yang diatur oleh UU No. 5 tahun 1999 dan PP No. 57 tahun 2010,” ungkap KPPU dalam keterangan tertulisnya

Selain itu juga, KPPU menyatakan bahwa transaksi Grab pada Uber adalah akuisisi aset namun tanpa adanya perpindahan kendali dari Grab Indonesia. lembaga tersebut menilai bahwa transaksi itu bukan penggabungan usaha.

“Transaksi itu juga bukan penggabungan usaha, karena badan hukum Uber Indonesia sendiri tetap masih ada dan tak bergabung dengan Grab Indonesia,” imbuh KPPU.

Pengawasan Harga

Akan tetapi KPPU menyatakan pihak dari KPPU bakal melakukan pengawasan terkait dengan perkembangan persaingan usaha dan juga harga sektor aplikasi transportasi berbasis daring tersebut. “Mencegah adanya potensi price leadership atau price fixing yang bisa meningkat seiring dengan meningkatnya juga konsentrasi pasar,” ungkapnya lebih tegas.

Lembaga tersebut sebelumnya meminta Grab Indonesia segera mengirim notifikasi atas akuisisinya pada bisnis Uber di Asia Tenggara yang dilakukan pada bulan Maret yang lalu. kewajiban melaporkan hal ini pada KPPU sendiri sudah tertuang pada pasal 29 UU No. 5 Tahun 1999 dan Pasal 5 PP NO. 5 tahun 2010.

Menurut KPPU sendiri, akuisisi ini bakal berdampak pada konsentrasi pasar 2 pelaku besar yang ada di Indonesia yaitu Gojek dan Grab. KPPU juga mencatat jumlah pengguna aplikasinya dari Grab sebanyak kurang lebih 14.69 persen dari seluruh pasar. Sementara itu, 6,11 persennya dimiliki oleh Gojek dan Uber. Dengan adanya pengawasan ini diharapkan akan terjadi persaingan yang lebih sehat.