Merapi Erupsi Lagi, Kolom Abu 2 KM

Gunung Merapi mengalami erupsi pada hari Kamis (13/2) dan melontarkan kolom abu yang mencapai 2 km. BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi) mengatakan dalam akun Twitter resminya @BPPTKG bahwa erupsi merapi ini terjadi pada jam 05.16 WIB.

Kolom Abu 2 KM

“Erupsi terekam di seismogram dengan amplitude 75 mm dan durasi 150 detik,” ungkap kicauan akun BPPTKG. Tinggi kolom erupsi dikatakan mencapai sekitar 2 km dan kolom tersebut mengarah ke barat laut.

Walaupun erupsi, status gunung api yang masih aktif di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah itu masih ditetapkan waspada. Status waspada sendiri berlakuk sejak tanggal 21 Mei 2018. “Tingkat aktifitas Merapi saat ini WASPADA (level 2),” ungkap BPPTKG lagi.

Status di atas waspada untuk gunung api, tak terkecuali Merapi, ada siaga dan awas ketika kondisi erupsi gunung api dinilai sudah masuk ke tingkat membahayakan togel hongkong.

Erupsi Tahun 2019

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api yang statusnya masih aktif sampai dengan hari ini. Terakhir kali gunung tersebut erupsi dan memakan korban adalah pada tahun 2019 lalu. PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) pada saat itu mengimbau pada warga menjauhi area dalam radius 3 KM dari puncak gunung tersebut setelah letusan terjadi pada tanggal 17 November 2019 lalu.

PVMBG pun mengimbau warga untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik dan juga awan panas Merapi dan mewaspadai ancaman aliran lahar saat hujan turun di sekitar puncak gunung berapi itu. Agus Wibowo selaku Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan pada masyarakat bahaya dari awan panas akibat runtuhnya kubah lava dan juga jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif tersebut.

“Berdasarkan pantaian Pusdalpos BNPB, situasi di lapangan masih aman terkendali dan taka da dampak yang berarti. Masyarakat juga diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti rekomendasi dari PVMBG,” ungkapnya seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Menurut PVMBG juga Gunung Merapi yang berada di wilayah Kabupaten Sleman, DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), dan Kabupaten Klaten, Magelang dan Boyolali (Jawa Tengah) meletus pada tanggal 17 November 2019 pada pukul 10.46 WIB. Letusan tersebut tercatat pada seismogram dengan amplitude max 70 mm dan berlangsung selama 155 detik.

Menurutnya, kolom letusan pada saat itu teramati setinggi 1000 meter. Jadi erupsi Merapi yang terjadi Kamis (13/2) lebih tinggi. Saat merapi meletus pada tahun 2019 lalu, angin bertiup ke barat serta membawa hujan abu tipis pada sebagian wilayah Desa Banyubiru Dukun, Kabupaten Magelang. Pantauan dari BMKG dari citra satelit  Himawari pada saat itu, tepatnya jam 13.00 WIB, debu vulkanik Merapi sudah tak terdeteksi lagi di angkasa.

Pada erupsi tahun 2019 lalu PVMBG juga memperingatkan adanya potensi terjadinya aliran lahar setelah Gunung Merapi meletus. Aliran lahar ini sendiri memiliki potensi terjadi apabila hujan melanda kawasan gunung itu. “Masyarakat supaya mewaspadai bahaya lahar, khususnya ketika terjadi hujan di sekitar puncak GUnung Merapi,” ungkap keterangan tertulis PVMBG dikutip dari CNN Indonesia.

Kepala PVMBG, Kasbani menjelaskan bahwa ada bahaya lahar yang kemungkinan terjadi di sekitar wilayah lembah dan sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

Tahun ini warga berharap erupsi Merapi tidak memakan korban lagi dan warga bisa dievakuasi jika status dinaikkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *