Category Archives: Ulasan Film

Pengunjung Serbu Night King: Akibat Demam Game of Thrones di Bandung

Deskripsi singkat: Para pengunjung menyerbu 23 Paskal Mall Bandung untuk menyaksikan cosplay Game of Thrones tanggal 11-12 Mei 2019.

Pengunjung Serbu Night King: Akibat Demam Game of Thrones di Bandung

Teriakan keras dan histeris menggema di sebuah mall di Bandung, 23 Paskal Mall Bandung pada hari Minggu (12/5) kemarin. Teriakan itu berupa antusiasme para pengunjung yang melihat Night King dan juga White Walker dalam bentuk cosplaynya sedang berjalan memasuki atrium mall.

Demam Game of Thrones di Bandung

Penggemar-penggemar serial Game of Thrones ini langsung saja menyiapkan gawai mereka masing-masing dan juga berusaha untuk mendekati Night King guna mengambil gambar. Tapi pembatas yang sudah disiapkan panitia membuat para pengunjung pusat perbelanjaan besar tersebut tak bisa mengambil foto atau pun video dari jarak yang sangat dekat.

Walau demikian, mereka mempunyai kesempatan dapat berfoto di Iron Throne, The Night King Invansion dan juga Ice Dragon.

Bahkan tak tanggung-tanggung, di Iron Throne, pengunjung dapat berfoto juga memakai jubah dan juga pedang khas serial Game of Thrones. Tapi untuk berfoto, mereka harus rela menunggu lama untuk antre. Mereka tidak keberatan. Bahkan menunggu lama pun mereka lakukan hanya untuk itu. “Lumayan anterannya Panjang. Tapi demi bisa berfoto enggak masalah. Saya suka banget Game of Thrones,” kata Silvia (24) saat diwawancarai hari Minggu (12/5) kemarin, dikutip dari Kompas.com.

Ia juga menganggumi kostum dan juga kelengkapan-kelengkapan togel online yang lain seperti Ice Dragon dan juga Iron Throne yang dihadirkan di Bandung karena kostum itu amat sangat mirip dengan aslinya. Termasuk juga Night King yang didatangkan ke sana, amat sangat mirip dengan aslinya yang ada di serial TV nya.

Game of Thrones Experience

Kegiatan dengan tajuk Game of Thrones experience ini adalah hasil kerja sama HBO Asia dengan First Media. Kegiatan ini hadir di mall Banung, 23 Paskal itu pada tanggal 11 sampai 12 Mei 2019 lalu.

Bandung jadi kota terbesar keempat yang ada di Indonesia yang dikunjungi. Sebelumnya, kegiatan  ini telah dilakukan di kota-kota besar lainnya yaitu Jakarta, Medan dan  juga Surabaya.

“Bandung ini kan dikenal sebagai kota yang dinamis dan inovatif, jadi untuk itu lah kami memilih Bandung,” kata Donny Armando Razalie selaku Business Unit Head First Media wilayah Jabar.

Sementara itu, kegiatan ini dikatakan oleh Marketing Communication Division Head PT Link Net Tbk sebagai bagian dari kampanye “A Journey of Togetherness.” Salah satunya adalah dengan memberikan sebuah pengalaman berinteraksi langsung dengan para tokoh Game of Thrones.

Seperti yang diketahui Bersama bahwa akhir-akhir ini memang demam Game of Thrones sedang melanda Indonesia. Bahkan tidak hanya terjadi di Bandung saja dengan adanya kegiatan Game of Thrones Experience ini, namun juga terjadi di sebuah pernikahan.

Ya, ada sebuah pernikahan bertemakan Game of Thrones yang dilakukan oleh pasangan bernama Rekhaza Panji Riawan dan juga Sista Mauli Wulandari.

Dalam pernikahannya yang bernuansa fantasi itu, mempelai pria mengenakan pakaian King Joffrey Baratheon dan sang mempelai wanita berpakaian Elven Queen, Galadriel. Tidak hanya mereka yang berbusana fantasi ala Game of Thrones, tamu undangan sebanyak 600 undangan pun juga mengenakan busana ala-ala fantasi Game of Thrones dan Lord of the Rings. Bahkan pengiring wanitanya juga berpakaian sangat unik dengan jubah krem sesuai dengan tema fantasi yang mereka pilih.

Pernikahan pada tanggal 19 Oktober 2016 silam itu dilatarbelakangi oleh kecintaan kedua mempelai pada serial TV Game of Thrones.

Film-Film Eropa dan Indonesia di Europe on Screen 2019

Deskripsi singkat: Film-film yang ditayangjan di Europe on Screen 2019 tidak hanya film Eropa, melainkan Indonesia juga yaitu Arini (2018) dan The Gift (2018).

Film-Film Eropa dan Indonesia di Europe on Screen 2019

Festival Film Europe on Screen (EoS) 2019 berlangsung dari tanggal 18 sampai 30 April 2019. EoS yang mana berkunjung ke 8 kota di seluruh Indonesia tersebut menghadirkan 101 buah film kontemporer dari sebanyak 27 negara Eropa dan 2 film Indonesia.

Tayangkan Film-Film Kece Eropa

Charles-Michel Geurts, Wakil Kepala Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, menyampaikan EoS merupakan perayaan film untuk memperkenalkan kebudayaan Eropa. Festival ini mempunyai tujuan mendekatkan film-film Eropa pada masyarakat Indonesia. “Kami juga ingin mempromosikan kerja sama antara Eropa dan Indonesia, khususnya di bidang industry kreatif,”ungkapnya melalui pernyatan resmi.

EoS 2019 ini sendiri khusunya memberikan focus pada pelestarian lingkungan hidup togel singapore dengan mendedikasikan sub-segmen khusus dengan judul #OurLand yang menampilkan 4 film documenter pendek. Untuk kali pertamanya EoS mempunyai segmen restrospektif dan desain juga. Konten itu dihadirkan dalam merangka merayakan ulang tahun ke-100 sekolah seni dan desain Bauhaus di Jerman.

Segmen retrospektif #Bauhaus100 sendiri menayangkan Bauhaus Spirit, film documenter yang mana dibuat secara khusus untuk sekolah itu. Ada juga pemutaran rekaman arsip karya dan juga pameran instalasi tentang Bauhaus di Goethe-Institut Jakarta yang dimulai tanggal 19 April 2019 lalu.

Di penyelenggaraannya tahun sebelumnya, EoS menyambangi 6 kota yang lainnya yaitu Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, Medan, Denpasar dan Bandung. Tahun ini, EoS hadir untuk kali pertamanya di 2 kota tambahan yaitu di Tangerang dan Bekasi. Pemutaran film ini pasalnya berlangsung di pusat-pusat kebudayaan, termasuk juga Erasmus Huis, Instituto Italiano di Cultura, Goethe-Institut, Komunitas Salihara, Institut Francais dÍndonesie dan masih banyak lokasi lainnya. Ada juga layar tancap yang mana menampilkan film yang ramah keluarga.

Film Yang Tayang di Eos, Film Indonesia Juga Ada

Film pembuka yang ditampilkan di ajang EoS 2019 ini adalah film thriller yang dibuat oleh sineas Denmark berjudul The Guilty. Sinema arahan Gustav Moller tersebut memenangkan Audience Award dan juga Grand Jury Prize di ajang Sundance Film Festival 2018.

Tidak hanya film dari Eropa saja yang berkesempatan dipertontonkan di EoS 2019 ini. Namun, film Indonesia juga. Tak bisa dipungkiri bahwa film Indonesia makin menunjukkan eksistensinya di industry perfilman dunia. Selain melakukan kolaborasi-kolaborasi dengan beberapa rumah produksi dunia, banyak juga rumah produksi Indonesia yang sedang melakukan remake film negara lain. Misalnya saja Korea Selatan.

Bukan tanpa alasan mengapa eksistensi film Indonesia di luar negeri sekarang diperhitungkan, karena sudah banyak film yang mampu bersaing dan muncul di beberapa festival film internasional termasuk yang dipertontonkan di EoS 2019 ini. Tentunya akan sangat membanggakan apabila film-film Indonesia bisa masuk ke festival yang mempunyai usia paling tua di Asia Tenggara ini.

Film Indonesia yang mendapatkan kesempatan ditayangkan di EoS 2019 adalah Arini (2018) dan juga The Gift (2018). Dua film itu memang sudah sering mendapatkan perhatian dari para penonton dan juga kritikus Indonesia karena keciamikannya.

Kemudian, sinema komedi asal Austria, What Have We Done to Deserve This? Bakal menjadi penutup rangkaian acaranya. Semua pemutaran film dan juga program EoS 2019 ini terbuka untuk umum dan juga gratis. Dengan begitu, diharapkan para pecinta film dunia yang sedang berada di 8 kota tersebut bisa ikut berpartisipasi di dalam festival itu. Dan diharapkan hubungan antara Eropa dan Indonesia makin erat.

Setelah Black Widow, Hawkeye pun Akan dibuat Film Solonya

Nampaknya tidak mau ketinggalan dari Black Widow, karakter-karakter anggota Avengers yang lainnya pun yaitu Hawkeye rupanya pun siap dibuatkan film solonya. Wah, ini tentu saja menjadi kabar yang sangat menarik bagi para pecinta film Marvel apalagi fans karakter Hawkeye.

Hawkeye Siap Tempur di Film Solonya

Film solo Hawkeye ini adalah salah stau bagian dari proyek film solo dari masing-masing anggota Avengers Judi Poker yang mana direncanakan oleh Marvel setelah berakhirnya ‘fase yang ketiga’ dar MCU (Marvel Cinematic Universe) melalui film Avengers 4 di tahun 2019 mendatang.

Film solo Hawkeye ini diberitakan bakal mengisahkan soal Clint Barton (Jeremy Renner) sesudah ‘masa kerjanya’ dengan geng Avengers. Lantas Barton ditugaskan untuk melatih seorang pemanah wanita yang bakal menjadi penerusnya, namanya Kate Bishop.

Bishop sendiri di dalam versi komiknya merupakan wanita pertama yang mana mengambil jabatan Hawkeye dan juga jadi salah satu anggota dari Young Avengers. Peran Bishop ini diberitakan akan diisi oleh seorang bintang serial TV hits 13 Reasons Why yaitu Katherine Langford. Rumor ini pasalnya makin panas ketika Langford kabarnya sudah secara resmi bergabung untuk sebuah ‘peran yang sangat misterius’ dalam film Avengers 4.

Setelah sempat tidak muncul di film Avengers: Infinity War, Jeremy Renner pasalnya yang berperan sebagai Hawkeye dipastikan bakal muncul lagi di dalam film Avengers 4 yang dijadwalkan tayang pada tanggal 3 Mei 2019.

Film Hawkeye akan Tayang Setelah Avengers 4

Dilansir dari Liputan 6, Jeremy Renner sudah dipastikan didapuk kembali oleh Marvel Studios untuk kembali memerankan Clint Barton pada film Hawkeye setelah Avengers 4 rilis. Seorang sumber yang terpercaya menyampaikan berita ini. “Saya diberi tahu bahwa Marvel mempunyai ide untuk beberapa buah karakter yang berbeda untuk dibuatkan sejenis film solo pada masa mendatang. Salah satu karakternya adalah Hawkeye,” ungkap sumber itu.

Selain itu, sumber itu juga menyinggung pernyataan yang mana dilontarkan pimpinan dari Marvel Studios, Kevin Feige, tentang rencana Marvel untuk bisa mengangkat beberapa buah karakter ke dalam film solo setelah Avengers 4.

Karakter yang Telah dikenal

“Komentar dari Kevin Feige soaln inkarnasi berbagai karakter yang beda-beda bertepatan dengan saat saya diberi tahu soal Hawkeye. Saya tak akan mengatakan lagi karena ya, sekali lagi, itu sama sekali bukan lah sesuatu yang mungkin saja terjadi untuk waktu yang lama, namun itu pasti sesuatu yang ada di radar Marvel Studios,” imbuhnya.

Dalam sebuah konferensi yang digelar tahun ini, Kevin Feige pasalnya mengungkapkan bahwa jajarannya di Marvel Studios sedang mengembangkan scenario film dari karakter yang sudah dikenal sebelumnya. Film-filmnya dikabarkan bakal jadi bagian dari fase keempat dari waralaba MCU.

Sebelumnya, santer diberitakan bahwa Hawkeye bakal bermetamorfosis sebagai Ronin di dalam film Avengers 4. Setelah lama memancing desas-desus yang menyebutkan bahwa ada kemungkinan besar Barton bakal menyerahkan busur panahnya ke anak didiknya, akhirnya berita itu terjawab sudah.

Dikabarkan dalam film Hawkeye kelak, ia akan melatih anak didiknya yang mewarisi kemampuannya dan akan menjadi penggantinya di masa depan. Bishop yang sudah menjadi bagian dari Young Avengers atau penerus tim Avengers yang terdahulu pun siap beradu akting dengan Renner.

Disney dan juga Marvel Studios kabarnya memang tak akan merilis pernyataan resminya terkait proyek Hawkeye ini karena masih dalam proses pengembangan.

Saksikan Kenakalan Peter Rabbit dalam Sekuelnya!

Kabar gembira datang untuk anda atau anak-anak anda yang suka dengan film Peter Rabbit. Kabarnya kenakalan kelinci Peter Rabbit ini bakal kembali ke layar lebar. Sony Pictures yang menjadi rumah produksi dari film yang mana dibintangi oleh James Corden ini berencana untuk menggarap sekuelnya.

Rilis Dua Tahun Setelah Film Perdananya

Melansir CNN Indonesia, Sony Picture telah secara resmi mengumumkan tanggal rilisnya yakni tanggal 7 Februari 2020. Tanggal di mana Peter Rabbit 2 akan dirilis itu berjarak hampir 2 tahun sejak penayangan perdana Peter Rabbit pertama yang dirilis pada tanggal 3 Februari 2018 lalu. will Gluck juga akan kembali didaulat menjadi sutradara Petter Rabbit 2 dan juga penulis naskahnya.

Corden yang mana menyuarakan Peter Rabbit diprediksi akan kembali lagi walaupun belum ada konformasi secara resminya. Bea (Rose Byrne), Daisy Ridley (Cottontail), Domhnall Gleeson (Thomas McGregor), dan juga Elizabeth Debicki (Mopsy) pun diperkirakan masih ikut terlibat.

Sukses di Awal Rilis

Peter Rabbit juga bisa dibilang sukses ketika awal dirilis tahun lalu. total pendapatan secara globalnya, mengutip dari CNN Indonesia, sebesar kurang lebih US $326 juta atau sama dengan Rp. 4.5 triliun. Sementara itu, pengeluaran film itu sebesar kira-kira US $50 juta atau setara dengan Rp. 698 milyar.

Penghasilan tersebut bisa dikatakan sangat mengejutkan karena film bandar poker terpercaya ini sempat dihujani dengan isu negative dan juga mendapatkan ancaman boikot. Beberapa orang tua memprotes bagaimana cara Peter Rabbit memperlakukan Thomas McGregor yang menjadi orang yang alergi blackberry. Ia dicemooh bahkan juga cenderung dibully.

Sempat Kena Petisi

Ada satu adegan di mana para kelinci melemparinya dengan blackberry dan salah satu blackberry itu terkena di mulut yang langsung membuatnya alergi. Ia tergagap karena sangat shock anafilaktis (reaksi alregi yang mana dianggap sebagai kondisi medis yang sangat darurat) kemudian wajahnya lalu berubah merah.

Setelah beberapa detik kemudian, ia baru bisa mengatasi hal itu dengan cara menyuntikkan EpiPen ke dalam tubuhnya sendiri. itu merupakan injector untuk mengatasi semua jenis alergi secara darurat.

Dan menurut Allergy UK, dikutip dari CNN Indonesia, mengolok-olok seseorang apalagi sampai membuatnya mengalami syok anafilaktis bukan suatu tindakan yang dianggap bertanggung jawab. Bahkan itu disebut sama juga seperti perundungan.

CEO Allergy UK, Carla Jones juga menambahkan, “Sok anafilatik dapat membunuh. Menyertakan di adegan sebuah film anak-anak yang menampilkan reaksi alergi serius dan tak melakukannya dengan bertanggung jawab, itu tak bisa diterima. Seperti bullying.”

Mereka menganggap bahwa efek dari adegan itu akan memberikan dampak yang buruk. Ia coba memperingatkan orang tua juga. “Alergi makanan itu sangat serius sehingga kita harus mengedukasi anak-anak untuk bisa peduli dan menghormati para #FoodAllergies #Bullying,” tulis salah satu warganet.

Akhirnya pihak Sony Pictures menanggapi petisi dan seruan pemboikotan itu. secara resmi mereka meminta maaf pada hari Minggu, 11 Februari 2018 lalu. “Alergi makanan adalah masalah yang sangat serius. Film kami ini seharusnya tak mengolok musuh Peter Rabbit, Mr. McGregor, dikarenakan alergi pada blackberry walaupun itu dengan cara kartu atau dengan guyonan yang kasar,” itu lah apa yang tersebut dalam pernyataan dari Sony Pictures. Sony bahkan mengungkapkan tidak bermaksud sama sekali mengejek penyakit alergi yang serius dan juga secara menyedihkan tak menghormati keluarga-keluarga yang pernah kehilangan orang tercintanya karena anafilaksis.

Diadaptasi ke Film, ‘GUNDALA’ Pilih Joko Anwar

Geliat film superhero memang selalu bisa menghasilkan pendapatan box office yang sangat menggiurkan. Sebut saja Marvel-Disney dengan Marvel Cinematic Universe (MCU) yang sudah memiliki 19 film selama 10 tahun dengan keseluruhan pendapatan total domino qiu qiu sejauh ini USD 15,4 miliar. Tak mau kalah, DC-Warner Bros juga memiliki DC Extended Universe (DCEU) dengan lima film yang baru berjalan lima tahun dengan pendapatan total USD 3,7 miliar.

 

Menyadari penggemar film superhero Hollywood di Indonesia cukup besar, Screenplay Films dan Legacy Pictures yang bekerjasama dengan Bumilangit Studios memberanikan diri mengusung Gundala si Putra Petir. Komik karya Hasmi ini pertama kali dirilis pada tahun 1969 dan meskipun mendapat pengaruh superhero the Flash milik DC karya Gardner Fox, Gundala disebut Hasmi berdasarkan tokoh legenda Jawa bernama Ki Ageng Sela yang mampu menangkap petir.

 

Tokoh dalam Gundala adalah seorang ilmuwan jenius bernama Sancaka yang menemukan serum anti petir. Terlalu sibuk dengan ambisinya, Sancaka lupa bahwa sang kekasih Minarti berulang tahun hingga mereka putus. Dalam kondisi gundah, Sancaka yang patah hati berjalan sendiri di bawah hujan deras mendadak disambar petir hingga koma. Saat itulah jiwanya ditarik ke planet lain dan diangkat sebagai anak oleh Kaisar Kronz, raja Kerajaan Petir. Sancaka diberkahi kekuatan petir dari telapak tangannya dan kekuatan lari secepat angin milik Raja Tafun dari Kerajaan Bayu.

 

Tak main-main, untuk proyek ambisius GUNDALA ini, sutradara yang dibebankan tanggung jawab berat adalah Joko Anwar. Sukses besar lewat PENGABDI SETAN (2017), Joko memang menyebut kalau dirinya ingin terlibat dalam proyek film yang menantang. Apakah GUNDALA bakal mampu menjawab penilaian pemisis akan film superhero karya anak bangsa?

 

Alasan Hanung Bramantyo Diganti Joko

 

Proyek GUNDALA sendiri sebetulnya bukan baru-baru ini dihembuskan. Bahkan sejak September 2014, Bumilangit Studios sudah akan bekerjasama dengan Mahaka Pictures untuk GUNDALA PUTRA PETIR. Bahkan saat itu Hanung Bramantyo sudah disebut sebagai sutradara dan siap rilis di awal 2016. Namun film itu berkembang tidak jelas hingga Bumilangit Studios meresmikan rencana penggarapan GUNDALA yang baru dengan rumah produksi dan sutradara baru.

 

Wicky V Olindo selaku produser Screenplay Films menyebutkan bahwa ketidakcocokan antara Hanung dan Bumilangit, sebagai pemilik hak cipta karakter Gundala, jadi penyebab proyek itu gagal. Bumilangit ingin GUNDALA jadi awal munculnya film jagoan-jagoan asli Indonesia yang hak cipta karakter dimiliki oleh Bumilangit, tapi Hanung tak menyanggupinya, seperti dilansir VIVA. Sebelum dipegang oleh Joko, Gundala sudah pernah diangkat ke film yakni pada 1981 berjudul GUNDALA PUTRA PETIR yang diarahkan oleh Lilik Sudjio dan diproduksi Cancer Mas Film.

 

Banyak Film Adaptasi Komik Hingga 2022

 

Seolah ingin mengikuti jejak MCU atau DCEU, Bumilangit berambisi menciptakan semesta komik mereka ke layar lebar. Oyasujiwo selaku editor senior komik Bumilangit membocorkan bahwa pihaknya sudah memiliki berbagai proyek komik yang akan diadaptasi ke film hingga lima tahun ke depan yakni 2022, seperti dilansir Medcom.

 

Menurut Oya, Bumilangit saat ini menjadi rumah lebih dari 1.000 karakter komik superhero lokal Indonesia termasuk Gundala, Si Buta dari Gua Hantu, Godam, Mandala, Sri Asih, Virgo dan Tira yang dihasilkan para kreator legendaris seperti Hasmi, Wied NS, Jan Mintaraga, Nono GM, Mansyur Daman dan RA Kosasih.

Fix, Film Harley Quinn Akan digarap Sutradara Wanita, Cathy Yan

Sutradara wanita yang memiliki keturunan Asia, Cathy Yan, akhirnya terpilih untuk menggarap film solo Harley Quinn. Film tersebut dibuat berdasarkan komik berjudul Birds of Prey dan masih juga dibintangi oleh Margot Robbie.

Sebelumnya, Robbie sempat mengaku bahwa perusahaan yang ia miliki yakni LuckyChap akan mengerjakan proyek film lepasan dari Suicide Squad itu.

Yan adalah mantan jurnalis Wall Street Journal yang memulai debut filmnta dengan film Dead Pigs yang ada di Festival Film Sundance.

Dengan terpilihnya sutradara wanita ini, maka ia pun menjadi sutradara  perempuan yang kedua yang mana direkrut DC untuk menggarap film yang berdasarkan karakter komik tersebut setelah Petty Jenkins yang menyutradarai Wonder Woman.

Yan juga menjadi sutradara keturunan Asia pertama yang mampu memimpin sebuah film yang menjadi bagian dari DC Comics Universe.

Calon penulis naskah Batgirl, Christina Hodson pun telah terpilih untuk menjadi penulis kiah badut cantik, Harley Quinn tersebut. Sebelumnya pihak studio juga mempertimbangkan sejumlah pilihan lainnya untuk memuat karakter Harley Quinn termasuk juga Suicide Squad.

Beberapa sumber juga mengatakan bahwa naskah film solo yang digarap oleh Yan ini masih dalam proses pengerjaan. Yan sendiri lebih cenderung mulai turun tangan saat skenarionya sudah selesai digarap.

Proses produksinya diperkirakan bakal dimulai pada akhir tahun ini setelah Margot Robbie menyelesaikan proyek filmnya garapan Quentin Tarantino, Once Upon a Time in Hollywood.

Di sisi yang lainnya, proyek sekuel dari film Suicide Squad yang masih juga menayangkan sosok Harley Quinn ini akan mulai proses produksinya pada tahun 2018.

Dilansir dari CNN Indonesia bahwa Gavin O’Connor adalah sosok yang didaulat untuk menulis naskah sekuel soal geng dewa poker online penjahat-penjahat DC itu. Akan tetapi ia disebut-sebut berada di tahap negosiasi untuk menjadi sutradara film yang akan menggandeng Will Smith dan juga Jared Leto sebagai bintangnya.

Proses Penggarapan

Film spin-off dari Harley Quinn ini dikabarkan tengah memasuki proses penggarapan. Setelah Cathy Yan mengonfirmasi bahwa dirinya resmi menjadi sutradara dari film ini, ia berhasil menjadi sutradara Asia perempuan pertama di dunia superhero milik DC.

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa kemungkinan proses produksinya bersama dengan pemeran Harley Quinn, Margott Robbie akan dimulai tahun ini dan kemungkinan akan dimulai bulan September 2018.

Cathy Yan sendiri adalah penulis skenario, sutradara serta produser film. Sebelumnya ia juga pernah bekerja sebagai seorang reporter untuk Wall Street Journal yang ada di New York, Beijing dan Hong Kong sebelum dirinya beralih ke dunia pembuatan film. Yan pun pernah menjadi penulis naskah sekaligus sutradara dari film yang berdurasi pendek, Dead Pigs. Wanita bertalenta ini memulai debutnya di Shanghai.

Alur cerita yang dibawa di dalam film Harley Quinn ini dikabarkan akan berfokus pada sosok Harley Quinn dan juga teman-temannya satu gank dan semuanya perempuan.

Namun sampai saat ini belum ada konfirmasi tentang karakter apa saja yang bakal turut meramaikan film Harley Quinn ini. Akan tetapi ada rumor yang mengatakan bahwa karakter Black Canary dan Poison Ivy bakal tampil di film ini.

Keterlibatan Yan sebagai sutradara perempuan ini pasalnya tak lepas dari pengaruh Robbie yang menginginkan keterlibatan talent perempuan di dalam film yang dibintanginya itu. Lebih-lebih lagi film spin off ini juga diproduksi oleh rumah produksi miliknya yakni LuckyChap Entertainment.